Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMay 15, '10 12:20 PM
for everyone

Mungkin bagi sebagian besar orang, Pelajaran Olahraga adalah pelajaran yang paling menyenangkan karena bisa sambil bermain-main, tapi tidak bagiku. Dulu waktu aku baru masuk SD, aku tak peduli dengan pelajaran olahraga. Yang ada di pikiranku adalah, ‘Ikuti saja’. 

Keadaan berubah ketika aku pindah sekolah mengikuti orangtuaku. Awalnya, saya merasa biasa saja, tapi suatu hari ketika makan bersama, temanku pernah berkata, “Tahu nggak, siapa di kelas kita yang paling lambat larinya? Dia.” Aku ingat betul kalau telunjuknya tepat di depan batang hidungku.

Ketika naik kelas, keadaannya menjadi parah. Waktu itu saya berulang kali tidak bisa menyervis bola voli karena selalu saja tidak melewati net. Yang paling tidak kusukai, gurunya berkata, “Ini sih sampai kiamat baru bisa,” lalu melengos. Rasanya sakit mendengar itu. Aku memukul bola sekali lagi, lalu tak melewati net, jadi setelah itu aku memilih mundur.

Saat bermain kasti, saya selalu berbaris paling belakang, berharap tak usah saja memukul bola. Tapi aku juga sangat berharap melewati base pertama sampai akhir dalam satu pukulan. Maka setelah pemukulku memukul bola, aku berlari melewati base pertama, tapi tak lama setelah itu tanganku terkena bola. Aku dimarahi reguku, “Siapa sih yang nyuruh kamu lari? Kenapa gak diam di situ aja?”. Kelasku terbagi menjadi dua regu, maka sebanyak separuh kelas menyalahkanku berlari. ‘Hei, kenapa aku tidak pernah diberi kesempatan untuk berlari? Lalu bagaimana aku bisa mencetak skor kalau terus begini? Memangnya kalian saja yang boleh mencetak skor?’ ujarku dalam hati.

Sejak itu aku hanya berdiri di pinggir sebagai pencatat skor, aku mencatatnya per individu agar transparan. Setelah permainan berakhir, salah serorang temanku protes, “Kok skorku nol? Tadi kan aku mukul bola!”. 'Walau kamu memukul bola, tapi kalau kamu tidak pergi ke daerah bebas sampai regumu menjadi penjaga, maka skornya nol.' Aku bersyukur sekali, ternyata biar pun aku tidak bisa bermain, tapi aku mengerti sistem panilaian dengan baik. Itu mengapa waktu itu aku ingin sekali berlari karena aku tahu percuma saja aku memukul bola kalau tidak segera ke daerah bebas sebelum reguku dikenai bola sebab sama saja dengan skor orang yang tidak memukul bola.

Setiap pengambilan nilai olahraga, maka nilaikulah yang paling jelek di kelas. Lagipula gurunya pun selalu tak bersemangat mengmbil nilaiku. Setiap begitu, aku selalu menghibur diri sendiri, ‘Biar saja nilai olahragaku jelek, yang penting nilai matematikaku bagus.’ Entah mengapa aku jadi dendam kepada guru olahragaku tersebut.

Hal yang mengejutkan terjadi setelah mamaku pulang mengajar. Ia yang seorang guru matematika di sebuah SMP, mengeluhkan seorang murid barunya yang tidak bisa matematika. Mama kaget setelah bertanya dia berasal dari SD mana, dia menjawab nama SD-ku. Pada zamanku SD tersebut adalah SD terbaik di kotanya, maka mama bingung kenapa soal semudah itu tidak bisa dikerjakan. Karena penasaran dengan namanya, lalu aku bertanya. Mama berkata kalau namanya Mei (bukan nama sebenarnya). Satu-satunya orang yang terlintas di benakku adalah kakak kelasku yang merupakan anak Guru Olahraga. Kalau diperkirakan, ia memang sudah SMP. Tapi aku masih ragu.

Esoknya mama membawa buku latihan Mei. Kubuka isinya, bahkan menulis dua ratus ribu sepuluh saja dia menulis: 200 ribu 10. Lho, sejak kapan penulisan tersebut dibakukan? Makin kubalik lembaran-lembarannya makin aneh isinya. Kututup buku tersebut karena bosan. Aku terkejut ketika membaca nama lengkapnya. Di situ tertulis nama belakang yang sama dengan nama belakang guru olahragaku. Entah mengapa rasanya aku bahagia sekali. Pada bukunya aku berbisik, “Kasihan, kamu kena karma bapakmu.”

Kejadian-kejadian yang tidak kusukai tentang Pelajaran Olahragaku itu membuat sebuah kebencian terhadap pelajaran tersebut. Parahnya, aku menjadi orang yang menutup mata, hati, dan telinganya. Karena setiap pelajaran itu aku tidak pernah merasa lebih sehat. Aku pun bertekad untuk meninggikan nilai pelajaran lain sehingga biar pun guru tersebut memberikanku nilai nol, aku tetap dapat naik kelas. Aku juga ingin untuk menjaga perasaan setiap orang, walau sampai sekarang masih belum bisa.

Kini, setelah berusaha bersikap dewasa akhirnya aku bisa mencoba mencintai Pelajaran Olahraga. Pesan moral yang bisa diambil, jaga lisan dan tindakmu, apalagi terhadap anak-anak, karena jika kau berbuat salah, itu akan membekas sampai ia dewasa. Kalau kamu adalah orangtua yang mempunyai kesalahan pada anakmu, maukah kau dibenci anakmu seumur hidupnya?

_________________

Blog ini dibuat dalam rangka mengikuti Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan oleh Saudari Anazkia dan disponsori oleh denaihati.


32 CommentsChronological   Reverse   Threaded
muhammadalfatih wrote on May 15, '10
nyimak dulu
night16 wrote on May 15, '10
sedihh amat,,,, kisahnya,,,
tapi setidaknya bukan olahraganya yang dibencikan,? hhe...
fitrahanugrah wrote on May 15, '10
oh..kenapa tak suka olahraga...
komikstrips wrote on May 15, '10
itu mah pendidikan jasmani. . kalo olahraga mah beda. lari lari kecil di belakang rumah sendirian juga bisa di sebut olahraga.
papahende wrote on May 15, '10
mBak Tansa, nanti terasanya sesudah dialita. Jika tidak "memaksakan diri" ber-or, apalagi jika pekerjaannya banyak duduk (seperti sekolah dan kuliah), wah, bisa dibayangkan nanti jadinya kaya apa, rawan penyakit. terlebih lagi jika asupan makanan nggak seimbang (cenderung lebih banyak daripada yang dibutuhkan), maka akan semakin banyak penimbunan-penimbunan yang bisa menganggu kesehatan (batu ginjal, lemak hati, dsb). Sebaiknya, mulailah ber-or, dengan kegiatan yang disenangi: jogging, jalan cepat, atau apapun, tidak harus or prestasi, dijamin tidak akan menyesal nantinya.
ukhtisan wrote on May 15, '10
min jln pagi ... biar sehat n slalu smgt mnjlni khidupn dunia,hayo semangat :)
latansaide wrote on May 15, '10
nyimak dulu
oce deh
latansaide wrote on May 15, '10
night16 said
tapi setidaknya bukan olahraganya yang dibencikan,?
olahraganya tidak
pelajarannya iya
latansaide wrote on May 15, '10
oh..kenapa tak suka olahraga...
tak suka pelajarannya...
latansaide wrote on May 15, '10
itu mah pendidikan jasmani. .
maksud saya itu
latansaide wrote on May 15, '10
nanti terasanya sesudah dialita. Jika tidak "memaksakan diri" ber-or, apalagi jika pekerjaannya banyak duduk (seperti sekolah dan kuliah), wah, bisa dibayangkan nanti jadinya kaya apa, rawan penyakit. terlebih lagi jika asupan makanan nggak seimbang (cenderung lebih banyak daripada yang dibutuhkan), maka akan semakin banyak penimbunan-penimbunan yang bisa menganggu kesehatan (batu ginjal, lemak hati, dsb)
kok kayak curhat
latansaide wrote on May 15, '10
min jln pagi ... biar sehat n slalu smgt mnjlni khidupn dunia,hayo semangat :)
:)
dotcys wrote on May 15, '10
Pesan moral yang bisa diambil, jaga lisan dan tindakmu, apalagi terhadap anak-anak, karena jika kau berbuat salah, itu akan membekas sampai ia dewasa. Kalau kamu adalah orangtua yang mempunyai kesalahan pada anakmu, maukah kau dibenci anakmu seumur hidupnya?
Sepertinya terlalu cepat menilai. Emang guru olahraga itu berbuat salah gimana ke anaknya? Trus apa si anak guru olahraga jg benci kpd bapaknya itu?
latansaide wrote on May 15, '10
dotcys said
Emang guru olahraga itu berbuat salah gimana ke anaknya? Trus apa si anak guru olahraga jg benci kpd bapaknya itu?
bukan anaknya, tapi muridnya
missprita wrote on May 15, '10
Aku suka pelajaran olehraga cuma karena itu satu-satunya mata pelajaran yg membolehkan para siswa berlarian bebas di luar kelas. Walaupun, yah, nilai olahragaku juga terendah di kelas, tapi setidaknya guruku cukup baik (meskipun kadang mencela ketidak-bisaanku).
latansaide wrote on May 15, '10
mata pelajaran yg membolehkan para siswa berlarian bebas di luar kelas
mata pelajaran kosong (selalu) membolehkan para siswa berlarian bebas di luar kelas :)
night16 wrote on May 16, '10
olahraganya tidak
pelajarannya iya
sip,,,,,,,
latansaide wrote on May 16, '10
night16 said
sip,,,,,,,
okelah kalau begitu
pa1pita wrote on May 16, '10
Hmmm jangan terlalu benci nanti malah bisa jatuh cinta lho :-)
*kata orang sih begitu
muhammadalfatih wrote on May 16, '10
oce deh
kopi nya manna? :D
latansaide wrote on May 17, '10
pa1pita said
jangan terlalu benci nanti malah bisa jatuh cinta lho :-)
benci = benar-benar cinta
latansaide wrote on May 17, '10
kopi nya manna? :D
di warung :D
pa1pita wrote on May 17, '10
benci = benar-benar cinta
tuh kan udah beneran jatuh cinta jadinya :-D
muhammadalfatih wrote on May 17, '10
di warung :D
ambilin donk :D
latansaide wrote on May 17, '10
pa1pita said
tuh kan udah beneran jatuh cinta jadinya :-D
gubrak!
latansaide wrote on May 17, '10
ambilin donk :D
siapa antum? kok nyuruh-nyuruh ana???
muhammadalfatih wrote on May 17, '10
siapa antum? kok nyuruh-nyuruh ana???
:)
latansaide wrote on May 17, '10
:)
asasayang wrote on May 18, '10
ikutan ngintip...
latansaide wrote on May 18, '10
ikutan ngintip...
awas, nanti bintitan lho...
missprita wrote on May 21, '10
mata pelajaran kosong (selalu) membolehkan para siswa berlarian bebas di luar kelas :)
hehe iya juga, ya. maksudku, yang membolehkan para siswa lari2 bebas di lapangan kan cuma olahraga doang... ^^
latansaide wrote on May 24, '10
hehe iya juga, ya. maksudku, yang membolehkan para siswa lari2 bebas di lapangan kan cuma olahraga doang... ^^
masa sih?
Add a Comment
   

Latansa I. D. E.



Photobucket



Follow latansaide on Twitter





Photobucket


Mau ngiklan di sini? Pasang kode HTML gambar di atas di situs kamu ya!

Photobucket


chuin5



Photobucket


Create your own banner at mybannermaker.com!