Mungkin bagi sebagian besar orang, Pelajaran Olahraga adalah pelajaran yang paling menyenangkan karena bisa sambil bermain-main, tapi tidak bagiku. Dulu waktu aku baru masuk SD, aku tak peduli dengan pelajaran olahraga. Yang ada di pikiranku adalah, ‘Ikuti saja’.
Keadaan berubah ketika aku pindah sekolah mengikuti orangtuaku. Awalnya, saya merasa biasa saja, tapi suatu hari ketika makan bersama, temanku pernah berkata, “Tahu nggak, siapa di kelas kita yang paling lambat larinya? Dia.” Aku ingat betul kalau telunjuknya tepat di depan batang hidungku.
Ketika naik kelas, keadaannya menjadi parah. Waktu itu saya berulang kali tidak bisa menyervis bola voli karena selalu saja tidak melewati net. Yang paling tidak kusukai, gurunya berkata, “Ini sih sampai kiamat baru bisa,” lalu melengos. Rasanya sakit mendengar itu. Aku memukul bola sekali lagi, lalu tak melewati net, jadi setelah itu aku memilih mundur.
Saat bermain kasti, saya selalu berbaris paling belakang, berharap tak usah saja memukul bola. Tapi aku juga sangat berharap melewati base pertama sampai akhir dalam satu pukulan. Maka setelah pemukulku memukul bola, aku berlari melewati base pertama, tapi tak lama setelah itu tanganku terkena bola. Aku dimarahi reguku, “Siapa sih yang nyuruh kamu lari? Kenapa gak diam di situ aja?”. Kelasku terbagi menjadi dua regu, maka sebanyak separuh kelas menyalahkanku berlari. ‘Hei, kenapa aku tidak pernah diberi kesempatan untuk berlari? Lalu bagaimana aku bisa mencetak skor kalau terus begini? Memangnya kalian saja yang boleh mencetak skor?’ ujarku dalam hati.
Sejak itu aku hanya berdiri di pinggir sebagai pencatat skor, aku mencatatnya per individu agar transparan. Setelah permainan berakhir, salah serorang temanku protes, “Kok skorku nol? Tadi kan aku mukul bola!”. 'Walau kamu memukul bola, tapi kalau kamu tidak pergi ke daerah bebas sampai regumu menjadi penjaga, maka skornya nol.' Aku bersyukur sekali, ternyata biar pun aku tidak bisa bermain, tapi aku mengerti sistem panilaian dengan baik. Itu mengapa waktu itu aku ingin sekali berlari karena aku tahu percuma saja aku memukul bola kalau tidak segera ke daerah bebas sebelum reguku dikenai bola sebab sama saja dengan skor orang yang tidak memukul bola.
Setiap pengambilan nilai olahraga, maka nilaikulah yang paling jelek di kelas. Lagipula gurunya pun selalu tak bersemangat mengmbil nilaiku. Setiap begitu, aku selalu menghibur diri sendiri, ‘Biar saja nilai olahragaku jelek, yang penting nilai matematikaku bagus.’ Entah mengapa aku jadi dendam kepada guru olahragaku tersebut.
Hal yang mengejutkan terjadi setelah mamaku pulang mengajar. Ia yang seorang guru matematika di sebuah SMP, mengeluhkan seorang murid barunya yang tidak bisa matematika. Mama kaget setelah bertanya dia berasal dari SD mana, dia menjawab nama SD-ku. Pada zamanku SD tersebut adalah SD terbaik di kotanya, maka mama bingung kenapa soal semudah itu tidak bisa dikerjakan. Karena penasaran dengan namanya, lalu aku bertanya. Mama berkata kalau namanya Mei (bukan nama sebenarnya). Satu-satunya orang yang terlintas di benakku adalah kakak kelasku yang merupakan anak Guru Olahraga. Kalau diperkirakan, ia memang sudah SMP. Tapi aku masih ragu.
Esoknya mama membawa buku latihan Mei. Kubuka isinya, bahkan menulis dua ratus ribu sepuluh saja dia menulis: 200 ribu 10. Lho, sejak kapan penulisan tersebut dibakukan? Makin kubalik lembaran-lembarannya makin aneh isinya. Kututup buku tersebut karena bosan. Aku terkejut ketika membaca nama lengkapnya. Di situ tertulis nama belakang yang sama dengan nama belakang guru olahragaku. Entah mengapa rasanya aku bahagia sekali. Pada bukunya aku berbisik, “Kasihan, kamu kena karma bapakmu.”
Kejadian-kejadian yang tidak kusukai tentang Pelajaran Olahragaku itu membuat sebuah kebencian terhadap pelajaran tersebut. Parahnya, aku menjadi orang yang menutup mata, hati, dan telinganya. Karena setiap pelajaran itu aku tidak pernah merasa lebih sehat. Aku pun bertekad untuk meninggikan nilai pelajaran lain sehingga biar pun guru tersebut memberikanku nilai nol, aku tetap dapat naik kelas. Aku juga ingin untuk menjaga perasaan setiap orang, walau sampai sekarang masih belum bisa.
Kini, setelah berusaha bersikap dewasa akhirnya aku bisa mencoba mencintai Pelajaran Olahraga. Pesan moral yang bisa diambil, jaga lisan dan tindakmu, apalagi terhadap anak-anak, karena jika kau berbuat salah, itu akan membekas sampai ia dewasa. Kalau kamu adalah orangtua yang mempunyai kesalahan pada anakmu, maukah kau dibenci anakmu seumur hidupnya?
_________________ Blog ini dibuat dalam rangka mengikuti Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan oleh Saudari Anazkia dan disponsori oleh denaihati.
 | sedihh amat,,,, kisahnya,,, tapi setidaknya bukan olahraganya yang dibencikan,? hhe...
|
 | oh..kenapa tak suka olahraga... |
 | itu mah pendidikan jasmani. . kalo olahraga mah beda. lari lari kecil di belakang rumah sendirian juga bisa di sebut olahraga. |
 | mBak Tansa, nanti terasanya sesudah dialita. Jika tidak "memaksakan diri" ber-or, apalagi jika pekerjaannya banyak duduk (seperti sekolah dan kuliah), wah, bisa dibayangkan nanti jadinya kaya apa, rawan penyakit. terlebih lagi jika asupan makanan nggak seimbang (cenderung lebih banyak daripada yang dibutuhkan), maka akan semakin banyak penimbunan-penimbunan yang bisa menganggu kesehatan (batu ginjal, lemak hati, dsb). Sebaiknya, mulailah ber-or, dengan kegiatan yang disenangi: jogging, jalan cepat, atau apapun, tidak harus or prestasi, dijamin tidak akan menyesal nantinya. |
 | min jln pagi ... biar sehat n slalu smgt mnjlni khidupn dunia,hayo semangat :) |
 | Aku suka pelajaran olehraga cuma karena itu satu-satunya mata pelajaran yg membolehkan para siswa berlarian bebas di luar kelas. Walaupun, yah, nilai olahragaku juga terendah di kelas, tapi setidaknya guruku cukup baik (meskipun kadang mencela ketidak-bisaanku). |
 | Hmmm jangan terlalu benci nanti malah bisa jatuh cinta lho :-) *kata orang sih begitu |
| |